Adzan magrib baru saja merkumandang, Ku ambil air wudhu. Aku berniat untuk wudhu sebelum aku sholat. Mataku masih bengkak memerah. Sudahlah, aku pikir bersedih tak perlu berlarut larut. Aku akan mengadu pada sang Pencipta apa yang baru saja aku rasakan.
"Nak, Mama nanti mau pergi sama Papa. Mau beli kebutuhan Papa untuk di Surabaya. Kamu mau titip apa, biar sekalian Mama belikan?"
Ku gelengkan kepalaku, dan beranjak pergi meninggalkan Mama di ruang keluarga.
"Kamu kenapa? Kok diam saja? Mama sedang bicara denganmu."
"Aku mau sholat dulu Ma."
"Ada apa dengan anak itu? Tak biasanya dia seperti itu. Apa yang telah terjadi sehingga dia seperti itu?" tanya mama dalam hati.
Setelah sholat magrib, aku selalu membaca Al-Quran. Hati dan persaanku berangsur tenang. Tapi entah kenapa pikiranku masih terbayang oleh msalah tadi. Kejadian yang tak penah aku kira sebelumnya, tiba-tiba menerpaku. Aku seperti terjatuh dari negeri awan yang sangat indah ke jurang yang sangat dalam.
"Dania, Papa dan Mama pergi dulu. Kamu yakin ngga mau pesan sesuatu biar nanti Papa belikan?"
"Engga Pa, Dania lagi ngga pingin apa-apa."
"Yasudah, kamu jangan lupa makan. Ngga usah nunggu Papa Mama pulang. Papa mau mampir rumah temen Papa sebentar."
"Iya Pa, nantii aku makan."
"Kamu hati-hati dirumah. Papa berangkat dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Pa."
"Nak, Mama nanti mau pergi sama Papa. Mau beli kebutuhan Papa untuk di Surabaya. Kamu mau titip apa, biar sekalian Mama belikan?"
Ku gelengkan kepalaku, dan beranjak pergi meninggalkan Mama di ruang keluarga.
"Kamu kenapa? Kok diam saja? Mama sedang bicara denganmu."
"Aku mau sholat dulu Ma."
"Ada apa dengan anak itu? Tak biasanya dia seperti itu. Apa yang telah terjadi sehingga dia seperti itu?" tanya mama dalam hati.
Setelah sholat magrib, aku selalu membaca Al-Quran. Hati dan persaanku berangsur tenang. Tapi entah kenapa pikiranku masih terbayang oleh msalah tadi. Kejadian yang tak penah aku kira sebelumnya, tiba-tiba menerpaku. Aku seperti terjatuh dari negeri awan yang sangat indah ke jurang yang sangat dalam.
"Dania, Papa dan Mama pergi dulu. Kamu yakin ngga mau pesan sesuatu biar nanti Papa belikan?"
"Engga Pa, Dania lagi ngga pingin apa-apa."
"Yasudah, kamu jangan lupa makan. Ngga usah nunggu Papa Mama pulang. Papa mau mampir rumah temen Papa sebentar."
"Iya Pa, nantii aku makan."
"Kamu hati-hati dirumah. Papa berangkat dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Pa."